Berbagai Cara Membuat Penjahat
Ketika seorang anak laki-laki lahir kedunia, bapak sang anak serasa menemukan sorga dunia. Namun, neneknya berbisik, “Unyeng-unyeng kepalanya ada dua. Anak ini akan jadi biang kenakalan!”
Semua tak peduli, ketika anak itu tumbuh menjadi dewasa, kecuali sang bapak yang telah mematahkan seratus rotan dan memutuskan ikat pinggang di tubuh si anak ber-unyeng dua. Siapa yang bersalah? Unyeng-unyeng di kepala atau lingkungan yang memberi ‘cap’ pada produksi yang kesekian miliar dari sebuah masyarakat yang menanggung beban dunia?
Kalau bapaknya maling, ibunya pelacur, kakek-nya mucikari, si anak tumbuh di lorong-lorong kamar bordil sambil menusuk dinding bambu dan menguping orang dewasa sedang cekikian, sedangkan ibu guru di sekolah pun sering-sering tak mendengar suaranya di depan kelas karena jumlah murid yang melebihi kutu di kepala sang guru. Tragedi apa pula yang akan menimpa masa depan si anak berunyeng-unyeng dua, yang mengalami labeling process semenjak menarik nafas pertama di dunia? Tak mustahil ketika ia harus menghembuskan nafas terakhir saat meninggalkan dunia setelah dewasa (kena “petrus” atau lainya), ia akan dikenang sebagai ‘alumni’ anak-anak nakal yang berunyeng dua di kepalanya....
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Seorang kriminolog kaliber dunia yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, yang semasa hidupnya menjabat guru besar di Universitas Amsterdam, Mr. W.A. Bonger menulis dalam bukunya Pengantar Tentang Kriminologi (1950), bahwa kejahatan anak-anak dan pemuda sudah merupakan bagian yang besar dalam kejahatan. Lagipula, kebanyakan penjahat-penjahat dewasa sejak mudanya sudah menjadi penjahat dan merosot susilanya sejak masa anak-anak.
Dalam hal ini, Bonger ingin menegaskan bahwa kejahatan yang dilakukan sang “matius” (mati misterius) bukanlah suatu perilaku yang begitu saja tiba-tiba di-inspirasikan dari langit ketujuh, sebagaimana umumnya dirasakan para penyair.
Kejahatan merupakan suatu proses kausalitas yang manusiawi yang berangkat dari selembar kertas putih.
E. Sutherland, seorang Kriminolog Amerika, mengatakan bahwa tingkah laku kriminal itu dipelajari, sebagaimana halnya tingkah laku non-kriminal. Hanya saja, apa yang sampai pada si anak manusia berunyeng-unyeng dua di Jawa berbeda dengan persepsi yang dihayati oleh Rabindranath Tagore, penerima hadiah Nobel dari India.
Penulis tidak tahu, apakah di balik rambut Tagore yang berombak itu terdapat satu atau dua unyeng. Lalu, makna budaya apa yang tersirat dari makian kasar masyarakat,
“Dasar anak maling!”,
ketika bocah berunyeng-unyeng dua itu tertarik pada sebuah mainan temannya dan menyimpan benda itu untuk dirinya? Bahkan, sampai hari ini para kriminolog masih terus berdebat, apakah penjahat itu diciptakan atau dilahirkan?
Pepatah lama mengatakan
“guru kencing berdiri murid kencing berlari”,
yang oleh penyair Taufik Ismail diubah dalam versi kontemporer menjadi,
“guru kecing berdiri murid mengencingi guru”,
yang membuat murid dan guru terlibat dalam acara berbalas kencing, bukan lagi berbalas pantun, seperti yang dibawakan gadis-gadis ranum dan pemuda-pemuda cemerlang di TVRI.
Ungkapan di atas bukan sebuah gaya bahasa hiperbola belaka, tetapi lebih merupakan tragedi yang realistik yang dihapai lembaga strategis yang bernama “sekolah” di negara kita ini. Apabila ditarik pada perspektif yang lebih universal, pepatah tersebut merupakan parodi sosial yang menggedor salah satu sendi filsafah pendidikan anak-anak yang acapkali dicanangkan dengan rancak, bahwa orangtua harus menjadi panutan anak-anaknya. Kalimat itu telah kehilangan imajinasi, telah aus seperti engsel pintu yang tidak pernah disentuh minyak pelumas. Barangkali perlu dicari idiom baru yang lebih konteksual yang mampu menghidupkan makna yang terkandung dalam kalimat tersebut di atas, sehingga aktualitasnya terjaga, tidak kehilangan imajinasi dan tidak menjadi semboyan kosong. Misalnya, dengan memperpanjang kalimat itu dalam versi kontemporernya, yaitu orangtua harus menjadi panutan orang-orang tua, sehingga terjadi kompetisi panut-memanut, teladan meneladani untuk mencapai “tiga S” (selaras, serasi, dan seimbang).
Barangkali itu hanya sebuah lanturan penulis. Akan tetapi, ada baiknya penulis mengajak sidang pembaca untuk merenungi khotbah singkat seorang kawan yang kebetulan penulis kunjungi di tempat kerjanya, yaitu sebuah panti asuhan anak-anak terlantar di Jakarta. Isinya cukup menarik.
“Anda ingin tahu bagaimana caranya membuat penjahat?”
Dia mengucapkannya dengan wajah ringan.
"Mulailah sewaktu dia masih anak-anak untuk memberikan padanya segala apa yang diinginkan. Dengan cara itu, anakmu akan tumbuh dengan pikiran bahwa dunia harus menyediakan penghidupan bagi dia, sepatunya, buku-bukunya, atau pakaiannya. Kerjakan semuanya untuk anakmu, agar dia berpengalaman dalam melemparkan kesulitan pada orang lain. Hindari pemakaian kata “kamu salah” kepadanya, karena jangan-jangan akan menimbulkan dampak perasaan bersalah pada si anak. Hal ini penting untuk mempersiapkan dia, agar yakin dan percaya, apabila di kemudian hari sang anak mendapat hukuman karena berbuat salah, dia akan berkeyakinan bahwa masyarakatlah yang menentang dia.
Biarkan anakmu membaca apa saja yang dia inginkan, jangan peduli persepsinya setelah dia membaca buku apa saja. Sediakan makanan bebas hama dari tubuhnya, akan tetapi biarkan jiwa bebas merdeka menelan segala macam perkataan dan pikiran yang kotor. Jangan sungkan-sungkan bertengkar dengan istrimu atau suamimu di hadapan anakmu. Dengan demikian, dia akan sangat mudah dipersiapkan bagi sebuah perkawinan yang berantakan di kemudian hari. Berilah anakmu uang sebanyak yang dimintanya, tanpa bertanya untuk apa. Jangan sekali-kali membiarkan dia mendapatkan uang dari hasil keringatnya sendiri. Bela mati-matian anakmu di hadapan polisi, teman-temannya, tetangga, dan guru, karena mereka semuanya selalu berprasangka buruk terhadap anakmu yang manis itu. Dan apabila akhirnya pada suatu saat anak manis itu telah dewasa dan benar-benar dalam kesulitan yang genting, jangan merasa bersalah untuk membela diri anda sendiri dengan mengatakan, “sejak kecil dia memang sudah sulit diatur, dasar anak setan!”
Dengan limbung, penulis melangkah keluar dari kamar kerja kawan yang bijak bestari setelah mendengar khotbahnya yang “nyentrik” itu. Di halaman panti asuhan, anak-anak masih terus bermain dengan ceria. Ada yang berlari-lari, ada yang bernyanyi, menari, ada yang bermain ular naga panjangnya bukan kepalang, menjalar-jalar selalu kian kemari....
Tiba-tiba penulis teringat sebuah sajak penyair Rendra yang berkisah menyantuni para pelacur. “Bersatulah pelacur-pelacur kota Jakarta, kibarkan kutangmu....”
Apabila penulis seorang penyair, ingin rasanya mengubah sebuah sajak, “Bersatulah anak-anak sedunia, hapuslah ingusmu ....”
Akan tetapi, siapakah di antara mereka yang akan menjadi panutan atau menjadi teladan di antara mereka? Bukankah mereka masih sama-sama bocah?
Sumber Buku : Yesmil Anwar, S.H., M.Si., Saat Menuai Kejahatan



Komentar
Posting Komentar